Syiah adalah salah satu dari dua cabang besar Islam, selain Sunni. Syiah berasal dari kata Syi’atu ‘Ali atau pengikut ‘Ali, yaitu sahabat Nabi Muhammad SAW dan menantu Nabi yang menjadi khalifah keempat. Arti kata Syiah sendiri adalah pengikut atau pendukung ‘Ali. Akan tetapi, terdapat perbedaan dalam keyakinan dan praktik keagamaan antara Sunni dan Syiah, yang menjadi pertanyaan dan kontroversi di kalangan umat Islam.
Sejarah Syiah
Sejarah Syiah dimulai pada masa pemerintahan khalifah ‘Utsman bin Affan, yang merupakan khalifah ketiga setelah Nabi Muhammad wafat. Khalifah ‘Utsman memperkenalkan nepotisme dan korupsi dalam pemerintahannya, yang menimbulkan kekecewaan dan ketidakpuasan oleh sebagian besar umat Islam. Kemudian, terjadi protes dan demonstrasi oleh para sahabat Nabi, termasuk ‘Ali dan keluarganya, yang merasa tidak puas dengan pemerintahan ‘Utsman.
Pada akhirnya, ‘Utsman dibunuh oleh sekelompok orang yang tidak puas, dan terjadilah perang saudara antara para sahabat Nabi yang menginginkan agar ‘Ali menjadi khalifah, dan kelompok lain yang mendukung khalifah lainnya. Akhirnya, ‘Ali menjadi khalifah keempat setelah tiga khalifah sebelumnya, tetapi pemerintahannya penuh dengan konflik dan perselisihan dengan kelompok-kelompok lain.
Pada masa khalifah ‘Ali, terjadi perpecahan di kalangan umat Islam, yang akhirnya membentuk dua faksi besar, yaitu Sunni dan Syiah. Syiah menganggap ‘Ali sebagai khalifah yang sah dan hanya mengikuti keturunan ‘Ali, sedangkan Sunni menganggap khalifah yang sah adalah mereka yang dipilih oleh mayoritas umat Islam.
Keyakinan Syiah
Keyakinan Syiah berbeda dengan Sunni dalam beberapa hal, antara lain:
- Imamah: Syiah mempercayai bahwa hanya keturunan ‘Ali yang dapat menjadi imam atau pemimpin umat Islam, sedangkan Sunni tidak mempercayai hal tersebut.
- Ali dan keluarganya: Syiah menganggap ‘Ali dan keluarganya sebagai pemimpin yang lebih baik daripada para khalifah Sunni sebelumnya, sedangkan Sunni menganggap khalifah Sunni lainnya sebagai pemimpin yang sah.
- Kematian Husain: Syiah merayakan kematian cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, sebagai peristiwa penting dalam sejarah Islam dan sebagai simbol perlawanan terhadap kezaliman, sedangkan Sunni tidak begitu memperhatikan peristiwa tersebut.
Perbedaan antara Syiah dan Sunni
Selain perbedaan keyakinan, terdapat beberapa perbedaan lain antara Syiah dan Sunni, antara lain:
- Shalat: Syiah memiliki beberapa perbedaan dalam cara melakukan shalat, seperti jumlah rakaat dan adzan.
- Kutbah Jumat: Syiah memiliki kutbah Jumat yang berbeda dari Sunni, yang mencakup kritik terhadap pemerintah.
- Pengorbanan Hewan: Syiah memiliki cara yang berbeda dalam melakukan pengorbanan hewan saat Idul Adha.
- Muharram: Syiah merayakan Muharram sebagai peringatan atas kematian Husain bin Ali, sedangkan Sunni tidak merayakan peristiwa tersebut.
Penyebaran Syiah di Indonesia
Syiah pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-16 melalui perdagangan dan hubungan diplomatik dengan Kesultanan Aceh. Akan tetapi, Syiah tidak mendapat dukungan dari ulama-ulama Sunni di Indonesia, yang lebih banyak berada di pulau Jawa. Sebagian besar penduduk Indonesia adalah Sunni, dan Syiah di Indonesia hanya merupakan minoritas kecil yang tersebar di Aceh, Sumatra Barat, dan beberapa daerah lainnya.
Kontroversi Syiah di Indonesia
Syiah di Indonesia sering menjadi kontroversial dan kontroversi ini terutama terjadi pada tahun 2010-an. Beberapa ulama Sunni menganggap Syiah sebagai aliran sesat dan mengeluarkan fatwa yang melarang umat Islam untuk mengikuti Syiah. Beberapa organisasi Islam Sunni juga melakukan aksi demonstrasi dan kekerasan terhadap umat Syiah dan tempat-tempat ibadah mereka.
Akan tetapi, di Indonesia terdapat juga beberapa ulama dan organisasi Islam yang mendukung dan memperjuangkan hak-hak umat Syiah. Mereka berpendapat bahwa Syiah adalah bagian dari Islam yang sah dan memiliki hak yang sama dengan Sunni untuk beribadah dan menyebarkan ajaran mereka.
Kesimpulan
Arti kata Syiah adalah pengikut atau pendukung ‘Ali, salah satu sahabat Nabi Muhammad dan menantu Nabi yang menjadi khalifah keempat. Syiah berasal dari perpecahan di kalangan umat Islam pada masa pemerintahan khalifah ‘Ali, dan memiliki keyakinan dan praktik keagamaan yang berbeda dengan Sunni. Meskipun Syiah di Indonesia hanya merupakan minoritas kecil, mereka sering menjadi kontroversial dan menjadi objek kekerasan dan diskriminasi oleh beberapa kelompok Sunni. Namun, di Indonesia juga terdapat ulama dan organisasi Islam yang mendukung hak-hak umat Syiah dan memperjuangkan toleransi dan keberagaman di antara umat Islam.






