Sebagai salah satu unsur penting dalam sebuah karya sastra, latar memiliki peran yang sangat penting dalam membangun cerita. Latar sendiri dapat diartikan sebagai tempat dan waktu di mana cerita berlangsung. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang tiga jenis latar yang umum digunakan dalam karya sastra dan memberikan beberapa contoh untuk masing-masing jenis latar tersebut.
Latar Tempat
Latar tempat atau setting adalah jenis latar yang mengacu pada tempat di mana cerita berlangsung. Setting dapat memainkan peran penting dalam membangun suasana cerita dan membantu pembaca membayangkan gambaran tempat di mana cerita berlangsung. Contoh dari latar tempat antara lain:
1. Rumah sakit: misalnya, dalam cerita “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata, rumah sakit menjadi latar tempat di mana tokoh utama, Ikal, menjenguk sahabatnya yang sedang sakit.
2. Hutan: contoh lain dari latar tempat adalah hutan, seperti dalam cerita “Hansel dan Gretel”. Hutan menjadi tempat di mana Hansel dan Gretel tersesat dan bertemu dengan penyihir jahat.
3. Kota: kota juga sering digunakan sebagai latar tempat dalam karya sastra, seperti dalam cerita “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata. Kota Belitong menjadi latar tempat di mana tokoh-tokoh dalam cerita bersekolah dan tumbuh kembang.
Latar Waktu
Latar waktu atau time setting adalah jenis latar yang mengacu pada waktu di mana cerita berlangsung. Latar waktu dapat membantu membentuk suasana cerita dan memberikan konteks historis yang penting. Contoh dari latar waktu antara lain:
1. Masa lampau: dalam cerita “Romeo dan Juliet” karya Shakespeare, latar waktu adalah masa lampau di mana cerita berlangsung pada abad ke-16 di Verona, Italia.
2. Masa depan: contoh lain dari latar waktu adalah masa depan, seperti dalam cerita fiksi ilmiah “The Hunger Games” karya Suzanne Collins. Cerita berlangsung pada masa depan di mana orang-orang dipaksa untuk bertarung dalam sebuah acara televisi untuk bertahan hidup.
3. Masa kini: latar waktu yang paling umum digunakan dalam karya sastra adalah masa kini. Contoh dari cerita yang berlatar waktu masa kini antara lain “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy yang berlatar di kota Bandung.
Latar Sosial-Budaya
Latar sosial-budaya adalah jenis latar yang mengacu pada kondisi sosial dan budaya di mana cerita berlangsung. Latar sosial-budaya dapat membantu pembaca memahami konteks cerita dan karakter yang ada di dalamnya. Contoh dari latar sosial-budaya antara lain:
1. Kelas sosial: dalam cerita “Pride and Prejudice” karya Jane Austen, latar sosial-budaya adalah kelas sosial di Inggris pada abad ke-19. Karakter-karakter dalam cerita harus mempertimbangkan status sosial mereka dalam memilih pasangan hidup.
2. Agama: agama juga sering digunakan sebagai latar sosial-budaya dalam karya sastra. Contoh dari cerita yang menggunakan latar agama adalah “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy yang mengambil latar belajar di sebuah universitas Islam di Bandung.
3. Budaya lokal: latar sosial-budaya juga dapat berupa budaya lokal, seperti dalam cerita “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang mengambil latar di Belitong, Indonesia.
Kesimpulan
Dalam sebuah karya sastra, latar memiliki peran yang sangat penting dalam membangun cerita. Ada tiga jenis latar utama yang umum digunakan dalam karya sastra, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial-budaya. Masing-masing jenis latar memiliki peran penting dalam membantu pembaca memahami cerita dan membayangkan gambaran tempat dan waktu di mana cerita berlangsung. Dengan memahami jenis-jenis latar ini, pembaca dapat lebih mudah memahami dan menikmati cerita yang dibaca.






