Pengantar
Laporan merupakan salah satu bentuk komunikasi tertulis yang penting dalam dunia bisnis dan akademik. Laporan yang baik haruslah jelas, terstruktur, dan mudah dipahami oleh pembaca. Namun, terkadang bahasa yang digunakan dalam laporan tidak memenuhi kriteria yang seharusnya. Artikel ini akan membahas beberapa kriteria yang sebaiknya tidak dipenuhi dalam bahasa laporan agar laporan tersebut lebih efektif dan mudah dipahami.
1. Penggunaan Bahasa yang Terlalu Formal
Penggunaan bahasa yang terlalu formal dalam laporan dapat membuat laporan terkesan kaku dan sulit dipahami. Sebaiknya gunakan bahasa yang lebih santai dan mudah dimengerti oleh pembaca.
2. Penggunaan Istilah Teknis yang Tidak Diketahui Pembaca
Laporan sering kali berisi istilah-istilah teknis yang hanya dipahami oleh orang-orang yang berkecimpung dalam bidang tersebut. Penting untuk menjelaskan istilah-istilah tersebut dengan jelas atau menggantinya dengan istilah yang lebih umum dipahami.
3. Penggunaan Kalimat yang Terlalu Panjang dan Rumit
Kalimat-kalimat yang terlalu panjang dan rumit dapat membuat pembaca kesulitan dalam memahami isi laporan. Sebaiknya gunakan kalimat yang singkat dan jelas agar pesan yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan baik.
4. Penggunaan Gaya Bahasa yang Tidak Sesuai
Setiap laporan harus memiliki gaya bahasa yang sesuai dengan tujuan dan target pembacanya. Jika laporan ditujukan untuk kalangan akademik, gunakan gaya bahasa yang lebih formal. Namun, jika laporan ditujukan untuk kalangan umum, gunakan gaya bahasa yang lebih santai dan mudah dipahami.
5. Penggunaan Kata-kata yang Tidak Diperlukan
Beberapa laporan cenderung menggunakan kata-kata yang tidak diperlukan, seperti kata-kata pengisi atau pengulangan kata yang sama. Hal ini hanya memperumit dan memperpanjang laporan. Sebaiknya gunakan kata-kata yang tepat dan relevan dengan isi laporan.
6. Penggunaan Bahasa yang Tidak Jelas
Penggunaan bahasa yang tidak jelas dapat membuat laporan sulit dipahami oleh pembaca. Pastikan setiap kalimat dan paragraf dalam laporan memiliki makna yang jelas dan tidak ambigu.
7. Penggunaan Bahasa yang Terlalu Emosional
Laporan sebaiknya menggunakan bahasa yang netral dan objektif. Hindari penggunaan bahasa yang terlalu emosional atau terlalu subjektif agar laporan tetap profesional dan dapat dipercaya.
8. Penggunaan Bahasa Asing yang Tidak Diperlukan
Beberapa laporan sering kali menggunakan bahasa asing yang tidak diperlukan. Jika tidak ada kebutuhan khusus, sebaiknya gunakan bahasa Indonesia secara keseluruhan agar laporan lebih mudah dipahami oleh pembaca.
9. Penggunaan Gaya Penulisan yang Tidak Konsisten
Gaya penulisan dalam laporan haruslah konsisten. Hindari perubahan gaya penulisan yang tiba-tiba dalam satu laporan. Gunakan gaya penulisan yang konsisten agar laporan terlihat lebih profesional.
10. Penggunaan Abreviasi yang Tidak Dijelaskan
Jika laporan menggunakan singkatan atau abreviasi, pastikan untuk menjelaskannya secara lengkap di awal laporan atau menyertakan daftar abreviasi di bagian akhir laporan agar pembaca dapat memahami dengan baik.
Kesimpulan
Dalam menulis laporan, penting untuk memperhatikan bahasa yang digunakan agar laporan dapat lebih efektif dan mudah dipahami oleh pembaca. Hindari penggunaan bahasa yang terlalu formal, istilah teknis yang tidak diketahui pembaca, kalimat yang terlalu panjang dan rumit, gaya bahasa yang tidak sesuai, kata-kata yang tidak diperlukan, bahasa yang tidak jelas, bahasa yang terlalu emosional, bahasa asing yang tidak diperlukan, gaya penulisan yang tidak konsisten, dan abreviasi yang tidak dijelaskan. Dengan memperhatikan kriteria-kriteria tersebut, laporan yang dibuat akan lebih berkualitas dan dapat memberikan informasi dengan lebih baik kepada pembaca.






